Sahabat Pelangiku
Sahabat Pelangiku
Ternyata dia sudah memiliki kekasih. Aku terpana. Jantungku berpacu dalam irama yang tidak beraturan, seakan menerjang tulang-tulang igaku. Kupegangi dadaku dan bertanya-tanya: kenapa aku begitu berdebar? Apakah ini yang dinamakan kecewa atau patah hati? Namun, kapan tepatnya aku jatuh cinta? Masih pantaskah perasaan ini disebut patah hati jika aku sendiri tak pernah benar-benar memilikinya?
Kalau benar ini patah hati, mungkin aku butuh "transfusi hati". Hehehe, siapa yang mau mendonorkan hatinya padaku dengan sukarela? Duh, pikiranku jadi melantur.
Aku teringat kembali awal perjumpaan kami di sekolah baru. Saat itu, aku sedang menatap gunung yang berdiri kokoh di kejauhan. Hatiku sedih karena harus berpisah dengan orang tua untuk tinggal di asrama. Bayangkan, baru lulus SD sudah harus belajar mandiri. Itulah didikan Bundaku, wanita yang sangat luar biasa.
Tiba-tiba, aku mendengar suara keributan di sampingku. Ketika menoleh, kulihat sekelompok anak laki-laki berjalan masuk. Salah satu di antara mereka terasa sangat akrab di ingatanku. Tapi di mana aku pernah melihatnya? Setelah merenung, aku tersadar bahwa dia adalah sosok yang pernah hadir di mimpiku—Sahabat Pelangiku. Dalam mimpi itu, kami bermain di taman bunga tulip, menikmati pelangi yang tak pernah habis. Kami begitu akrab, meski aku tak pernah tahu siapa namanya.
Waktu berlalu hingga tiba hari terakhir sekolah untuk urusan administrasi kelulusan. Karena sebuah kebetulan, kami harus maju bersamaan. Aku sangat terkejut karena akhirnya bisa melihatnya dari jarak yang begitu dekat. Namun, aku memilih tetap diam. Aku takut untuk tahu lebih banyak, aku hanya berharap dan berdoa semoga Tuhan selalu menjaga hatiku.
Tahun-tahun berganti hingga aku dewasa. Bayangan tentangnya sempat terkubur oleh kesibukan mencari ilmu. Sampai suatu malam, dia kembali hadir dalam mimpi, menggenggam tanganku dan memintaku untuk tidak melepaskannya. Aku terjaga dengan perasaan tersiksa. Aku merasa malu pada Tuhan karena terus menyimpan perasaan yang tak menentu ini.
Hingga akhirnya, Tuhan menjawab doaku. Lewat sebuah pencarian yang tak sengaja di media sosial, aku menemukan profilnya. Jantungku sempat berdegup kencang saat melihat foto profilnya yang kini sudah dewasa. Namun, ada sesuatu yang berubah. Di sana, aku melihatnya tersenyum sangat lepas dalam sebuah foto bersama kekasihnya. Ia terlihat begitu nyata, begitu manusiawi, dan sangat berbeda dengan sosok "pahlawan tak bernama" yang selama ini kusembah dalam mimpiku.
Melihatnya hidup di dunia nyata dengan bahagianya sendiri, tiba-tiba membuat bebanku luruh. Aku tersadar bahwa selama ini aku bukan mencintai dirinya, melainkan mencintai bayangan yang kubuat sendiri di kepala. Ternyata dia memang tidak pernah menyukaiku; itu semua hanyalah asumsiku.
Kenyataan bahwa dia sudah memiliki seseorang adalah "pintu keluar" yang diberikan Tuhan untukku. Aku tidak perlu lagi menerka-nerka, tidak perlu lagi memimpikan yang tidak pasti. Aku melihatnya, aku menerimanya, dan aku melepaskannya. Detik itu juga, aku merasa bebas. Aku tidak lagi terpenjara oleh harapan masa kecil.
Selamat tinggal Sahabat Pelangiku. Selamat tinggal mimpi masa kecilku. Terima kasih telah hadir sebagai pelangi, meski kini aku tahu, aku harus berjalan di bawah sinar matahari yang nyata.
Komentar